Tampilkan postingan dengan label Warna Warni Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warna Warni Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

Filosofi dari Sebuah "Ikatan Pernikahan"



UNTUK SUAMI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ...
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya ...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Amiiin



UNTUK ISTRI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Amiiin

Selasa, 28 Juli 2009

Maunya Apa Sih??!


Enggak, aku gak lagi marah koq, cuma bingung aja. Kenapa ya kita sebagai seorang manusia banyak banget kemauannya (tuntutannya), baik kepada orang lain maupun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT tentunya) siy gak masalah2 banget kali ya buat kita orang2 di sekitarnya, karena Allah SWT memiliki kekuasaan yang luasnya seluas langit dan bumi, so kalau tuh orang sampai ngambek untuk tidak meminta lagi kepada Tuhan Yang Maha Esa toh tidak akan mengurangi kekuasaan Nya secuil pun. Iya gak?

But, lain ceritanya kalo tuntutan dia terkait orang2 di sekitarnya (kita). Pertama kali menuntut kita masih bisa menerima dan bahkan dengan semangatnya kita berusaha memenuhi tuntutannya, kedua kali menuntut kita pun masih bersemangat melakukan perubahan sesuai dengan yang dia harapkan. Teruuusss nuntut terus deh sampai ketiga, keempat, kelima... Wah kalau sudah begini mulai deh bikin kepala, hati dan fikiran kita bekerja. Akhirnya keluar deh kata2 "mutiara" 'maunya apa sih?'. Akhirnya kelihatan deh keterbatasan manusia, sebagai seorang manusia biasa memang yang kayak begini ini bisa bikin diri kita kejeblos dalam limbah dosa, baik dosa hati (sebel, mengkel, kesel), dosa fikiran (berprasangka buruk, mengira kalau yuh orang emang banyak maunya tapi gak mau ngertiin orang lain), atau bahkan dosa lisan (keluar kata2 yang menyinggung hati atau bahkan membahsnya dengan teman yang lain jadinya ghibah deh). Duuhhhh... jadi seharusnya gimana dunks?


Setelah saya fikir2 dan resapi lagi hikmahnya. Sikap yang terbaik adalah teruslah berbuat yang lebih baik lagi, toh amal sholeh sesorang tidak akan tertukar dengan orang lain. Allah SWT khan Maha Tahu dan gak akan salah menilai. Repot2 banget memikirkan hati orang, kalau memang kita peduli sama orang itu, ya do'akan saja semoga cahaya ilahi sampai ke hatinya.

Sabar atas sikapnya yang telah membuatmu bla, bla, bla....
Syukur atas karunia Allah yang telah kita terima sehingga kita masih bisa menjaga pertahanan diri dari nafsu dan bisikan syaithon utk bermusuhan....

Ya Allah... tumbuhkanlah rasa cinta di hati ini cinta kepadaMu, dan jadikanlah kami saling mencintai karenaMu, sehingga kami selalu menebar cinta di jalanMu...
Aamiin... Allahumma Aamiinn...